Sarung batik menjadi salah satu tren yang mulai disukai oleh anak – anak muda milenial, tidak hanya karena menggambarkan tentang identitas budaya Indonesia, tetapi juga memiliki motif kekinian. Penggunaannya juga beragam, mulai dari acara formal, non formal, atau ibadah.
Perpaduan antara tren unsur kebudayaan asli Indonesia dengan sentuhan atau nuansa modern, membuatnya menjadi pilihan outfit unik sekaligus apik. Hang out bareng teman – teman kini lebih asyik dan percaya diri dengan mengenakannya.
Sentuhan profesional menjadi kunci
bagaimana sebuah sarung yang dipadukan dengan batik memiliki nilai artistik dan
budaya tersendiri. Contohnya memadukan warna coklat tua dengan motif guratan
(akar) memberikan nuansa daerah Batang yang asri dan terkenal akan batiknya.
Kini terdapat berbagai jenis dan motif dari
sarungnya sendiri, mulai dari dua warna, tiga warna, atau bahkan bisa lebih.
Teknik pembuatannya sendiri masih mengadopsi cara pembuatan batik tradisional,
yaitu dengan full tulis, semi tulis, atau menggunakan teknik cap.
SEJARAH SARUNG DAN BATIK DI NUSANTARA
Sarungbatik sendiri merupakan tren busana
baru, keduanya awalnya merupakan jenis pakaian berbeda dengan pemanfaatannya
berbeda pula. Sarung lebih sering digunakan oleh umat muslim untuk menjalankan
ibadah atau ritual doa.
Sedangkan batik sendiri cenderung dipakai
pada acara – acara formal. Bahkan di beberapa sekolah atau instansi mewajibkan
seragam khusus menggunakan batik. Perkembangannya batiknya tidak lagi terbatas
pada pakaian, tetapi berbagai aksesoris juga mulai mengadopsi motif tersebut.
1. Sejarah dan Penggunaan Sarung di Indonesia
Busana yang identik dengan santri atau
bapak – bapak bersantai ini memiliki sejarah panjang. Berdasarkan penelusuran
pada sejarawan, busana ini masuk ke Indonesia sekitar abad ke 14 dibawa oleh
pedagang muslim dari Gujarat dan India.
Kain panjang melingkar dengan motif
sederhana ini menjadi komoditas paling dicari serta mudah digunakan oleh umat
muslim untuk memenuhi persyaratan sebelum melakukan ibadah wajibnya.
Popularitasnya semakin meningkat semenjak masa – masa penjajahan.
Bangsa Indonesia, khususnya umat islam
menggunakan sarungnya sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi penjajahan.
Simbol perlawanan tersebut juga ditunjukkan oleh pemuka dan pemimpin bangsa
seperti KH Abdul Wahab Hasbullah.
Seiring berkembangnya waktu dan hilangnya
penjajahan dari nusantara, penggunaan sarungnya juga mengalami perkembangan.
Santri tetap menggunakannya sebagai bagian dari aktivitas sehari – harinya,
sedangkan masyarakat umum menggunakannya untuk kegiatan bersantai.
Mulai saat itulah penggunaannya identik
dengan bapak – bapak santai sambil menyeruput kopi. Namun kini penggunaannya
mulai berkembang lagi. Anak – anak muda mulai muncul ketertarikan
mengembangkannya sebagai outfit trendy.
2. Sejarah dan Penggunaan Batik di Indonesia
Pengembangan sarung batik sendiri merupakan
sebuah inovasi dari bergabungnya pakaian sarung dengan motif batik yang
menyertainya. Sebelum berkembang busana ini, lebih sering motif batiknya muncul
pada baju – baju formal dan berkemeja.
Para pakar sulit menentukan darimana asli
dari teknik membatik di nusantara, banyak menyebutkan bahwa dibawa dari
pedagang India. Karena teknik membatik tertua ditemukan di daerah Mesir. Namun
beberapa juga mempercayai asli Indonesia karena tradisi ini sudah ada di
Flores.
Ciri khas dari corak ini adalah teknik
pembuatannya, yaitu menggunakan keterampilan menggambar di atas kain
menggunakan lilin dan canting. Fungsinya adalah menutupi kainnya agar tidak
terkena tinta ketika dicelupkan, nantinya menghasilkan motif tertentu.
Seiring berkembangnya waktu, penggunaannya
mulai berkembang, tidak hanya sebagai pakaian saja tetapi juga aksesoris.
Begitu juga teknik pembuatannya, tidak lagi digambar manual, tetapi juga
memanfaatkan teknik cap.
SARUNG BATIK ADALAH IDENTITAS BANGSA
Menggabungkan kedua unsur kebudayaan
menjadi satu artefak kebudayaan baru merupakan sisi menarik dari busana ini.
Pemaknaan baru dan fungsi – fungsi baru yang lebih mencerminkan kenusantaraan
menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi muda.
Memadukan kedua unsur tersebut bukanlah
perkara mudah, pertama dari sisi fisiknya sendiri, sarung memiliki keunikan
dibandingkan sekedar kain yang dijahit melingkar. Pada salah satu sisinya
memiliki motif lebih rapat sebagai penanda bagian belakangnya.
Sedangkan kain batiknya sendiri cenderung
memiliki satu pola berulang, menggabungkan dua pola serupa tetapi tetap
memiliki nilai dan visual yang harmonis bukanlah perkara mudah. Namun berkat
riset, para ahli antropologi dan seniman batik, harmonisasi kini telah dicapai.
Bahkan mulai berkembang berbagai jenis
motif, warna, serta model – modelnya. Bentuk kreasi seperti pada sarungbatik.id
yang tidak hanya memadukan unsur kebudayaan saja tetapi juga memadukan tren
kekinian menarik perhatian generasi milenial untuk mencobanya.
Penggunaan sarung batik kini mulai
berkembang dan menjadi seperti fungsi sebelumnya, yaitu sebagai identitas,
kebanggaan, dan cerminan karakter bangsa. Tidak juga terbatas untuk acara
tertentu, seperti ibadah atau acara formal, tetapi dapat dipakai ketika
bersantai atau hangout.
Para pecinta fashion juga mulai berbondong
– bondong mengampanyekan untuk membiasakan mengenakannya, bahkan Presiden
Jokowi juga pernah menggunakannya ketika berkunjung ke Pekalongan, salah satu
daerah pengrajin batik terbesar di Indonesia.
KARAKTERISTIK SARUNG BATIK MODERN DAN
KEKINIAN
Sebagai bentuk perkembangan dari tradisi,
budaya, dan masuknya teknologi membuatnya memiliki karakteristik unik dan
menarik. Seperti yang dikreasikan oleh sarungbatik.id, ada beberapa
karakteristik unik khas yang menunjukkan bahwa sarungnya sangat fashionable
bagi anak muda.
1. Memiliki Warna dan Corak Lebih Cerah
Warna – warna pada batik tradisional
cenderung gelap dan kurang banyak motifnya. Berbeda dengan sarungbatik modern,
beragam warna mulai diterapkan bahkan semakin banyak berkembang warna – warna
cerah seperti merah, pink, dan sebagainya.
Bergantung pada teknik pewarnaannya,
terkadang bisa menghasilkan dua warna saja atau bisa lebih dari itu. Untuk
teknik pewarnaannya sendiri masih tetap mengadopsi teknik pewarnaan
tradisional, demi menjaga unsur batiknya.
2. Tidak Menyimbolkan Maksud Tertentu
Motif pada sarungbatik modern kekinian
cenderung bebas, bahkan setiap minggunya sarungbatik.id bisa memunculkan motif
– motif baru. Kreativitas dari desainer serta tingginya permintaan dari
masyarakat menjadi pendorong pengembangan motif baru tersebut.
Meskipun demikian, penciptaan motif
sarungbatik cenderung tidak memiliki simbolis khusus seperti batik tradisional.
Pengembangan motifnya lebih fokus pada menunjukkan daya kreasi, kecintaan, dan
dedikasi tinggi untuk melestarikan kebudayaan Indonesia.
3. Menambahkan Aksen Kedaerahan
Aksen – aksen kedaerahan cenderung sulit
ditemukan, meskipun beberapa corak memang dikenali oleh para pengguna batik.
Contohnya orang – orang mungkin sudah mengenali bahwa motif mega mendung
berasal dari Cirebon.
Pemahaman tersebut diketahui karena
banyaknya buah tangan bermotif batik mega mendung ketika sedang berkunjung ke
Cirebon. Tetapi ciri khas kedaerahan seperti adanya keraton kanoman, keraton
kacirebonan, dan sebaginya cenderung tidak nampak.
Sarung batik modern cenderung menunjukkan
berbagai jenis aksen – aksen kedaerahan, bisa berupa bangunan, tumbuh –
tumbuhan, atau hewan. Contohnya perkembangan corak Cendrawasih di daerah papua
dan topeng di daerah Bali.
4. Mengikuti Segmentasi dan Permintaan Pasar
Kelemahan dari produk tradisional adalah
motifnya cenderung tetap, variasinya sedikit, dan pembeli tidak bisa ikut
campur dalam penentuan visual produknya. Kelemahan ini menjadi titik unggul
dari sarungbatiknya generasi milenial.
Banyak pengrajin di sarungbatik.id mulai
mengambangkan beragam jenis produk custom, yaitu memberikan kesempatan bagi
konsumen untuk terlibat dalam penentuan pilihan warna dan kombinasi motifnya.
Dengan demikian produk sarungnya lebih sesuai dengan personal pelanggannya.
BANGGA MENGENAKAN SARUNG BATIK UNTUK
AKTIVITAS SEHARI – HARI
Pengembangan kombinasi kedua busana
tersebut memberikan ekosistem dan paradigma positif di kalangan masyarakat.
Sekarang ketika seseorang sedang bepergian menggunakan sarung tidak lagi
terlihat jadul, justru terlihat menawan.
Pembatasan terhadap status hanya santri
yang mengenakan sarung ke mana – mana juga mulai minim, banyak anak – anak muda
mulai mengombinasikan sarungnya dengan kaos pendek. Menunjukkan bahwa busana
ini bukan lagi identik dengan kegiatan peribadatan.
Lebih pada kreasi dan ekspresi terhadap
kecintaan produk – produk lokal dan kebudayaan asli Indonesia. Cocok juga
digunakan pada acara – acara formal, non-formal, bahkan kegiatan santai. Untuk
lebih memperkuat nuansanya, bisa mengatur jenis corak dan warnanya.
Pada kegiatan formal, biasanya warna
sarungbatik cenderung gelap dengan motif yang kaku. Itu menunjukkan keseriusan
dan dedikasi mengikuti kegiatan formal tersebut. Sedangkan ketika bersantai,
warna – warna cerah cenderung mendominasi, bahkan motifnya bisa sangat bebas.
Selain itu mengenakan busana ini memberikan
efek baik bagi pengembangan dan edukasi budaya lokal. Generasi muda jadi lebih
mengenal dan mencintai berbagai produk budaya nusantara.
Ketertarikan terhadap tren budaya ini
semakin meningkat, tetapi juga harus dibarengi dengan kualitas sarungnya. Akan
sangat kurang elegan apabila mengenakan sarung tetapi kualitas kainnya tidak
bagus, warnanya cepat pudar, dan kurang rapi.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar