Senin, 10 April 2023

SARUNG BATIK YANG KINI TREN SEBAGAI FASHION DI ERA MODERN

Sarung batik menjadi salah satu tren yang mulai disukai oleh anak – anak muda milenial, tidak hanya karena menggambarkan tentang identitas budaya Indonesia, tetapi juga memiliki motif kekinian. Penggunaannya juga beragam, mulai dari acara formal, non formal, atau ibadah.

Perpaduan antara tren unsur kebudayaan asli Indonesia dengan sentuhan atau nuansa modern, membuatnya menjadi pilihan outfit unik sekaligus apik. Hang out bareng teman – teman kini lebih asyik dan percaya diri dengan mengenakannya.

 

Sentuhan profesional menjadi kunci bagaimana sebuah sarung yang dipadukan dengan batik memiliki nilai artistik dan budaya tersendiri. Contohnya memadukan warna coklat tua dengan motif guratan (akar) memberikan nuansa daerah Batang yang asri dan terkenal akan batiknya.

 

Kini terdapat berbagai jenis dan motif dari sarungnya sendiri, mulai dari dua warna, tiga warna, atau bahkan bisa lebih. Teknik pembuatannya sendiri masih mengadopsi cara pembuatan batik tradisional, yaitu dengan full tulis, semi tulis, atau menggunakan teknik cap.

 

SEJARAH SARUNG DAN BATIK DI NUSANTARA

Sarungbatik sendiri merupakan tren busana baru, keduanya awalnya merupakan jenis pakaian berbeda dengan pemanfaatannya berbeda pula. Sarung lebih sering digunakan oleh umat muslim untuk menjalankan ibadah atau ritual doa.

 

Sedangkan batik sendiri cenderung dipakai pada acara – acara formal. Bahkan di beberapa sekolah atau instansi mewajibkan seragam khusus menggunakan batik. Perkembangannya batiknya tidak lagi terbatas pada pakaian, tetapi berbagai aksesoris juga mulai mengadopsi motif tersebut.

 

1. Sejarah dan Penggunaan Sarung di Indonesia

Busana yang identik dengan santri atau bapak – bapak bersantai ini memiliki sejarah panjang. Berdasarkan penelusuran pada sejarawan, busana ini masuk ke Indonesia sekitar abad ke 14 dibawa oleh pedagang muslim dari Gujarat dan India.

 

Kain panjang melingkar dengan motif sederhana ini menjadi komoditas paling dicari serta mudah digunakan oleh umat muslim untuk memenuhi persyaratan sebelum melakukan ibadah wajibnya. Popularitasnya semakin meningkat semenjak masa – masa penjajahan.

 

Bangsa Indonesia, khususnya umat islam menggunakan sarungnya sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi penjajahan. Simbol perlawanan tersebut juga ditunjukkan oleh pemuka dan pemimpin bangsa seperti KH Abdul Wahab Hasbullah.

 

Seiring berkembangnya waktu dan hilangnya penjajahan dari nusantara, penggunaan sarungnya juga mengalami perkembangan. Santri tetap menggunakannya sebagai bagian dari aktivitas sehari – harinya, sedangkan masyarakat umum menggunakannya untuk kegiatan bersantai.

 

Mulai saat itulah penggunaannya identik dengan bapak – bapak santai sambil menyeruput kopi. Namun kini penggunaannya mulai berkembang lagi. Anak – anak muda mulai muncul ketertarikan mengembangkannya sebagai outfit trendy.

 

2. Sejarah dan Penggunaan Batik di Indonesia

Pengembangan sarung batik sendiri merupakan sebuah inovasi dari bergabungnya pakaian sarung dengan motif batik yang menyertainya. Sebelum berkembang busana ini, lebih sering motif batiknya muncul pada baju – baju formal dan berkemeja.

 

Para pakar sulit menentukan darimana asli dari teknik membatik di nusantara, banyak menyebutkan bahwa dibawa dari pedagang India. Karena teknik membatik tertua ditemukan di daerah Mesir. Namun beberapa juga mempercayai asli Indonesia karena tradisi ini sudah ada di Flores.

 

Ciri khas dari corak ini adalah teknik pembuatannya, yaitu menggunakan keterampilan menggambar di atas kain menggunakan lilin dan canting. Fungsinya adalah menutupi kainnya agar tidak terkena tinta ketika dicelupkan, nantinya menghasilkan motif tertentu.

 

Seiring berkembangnya waktu, penggunaannya mulai berkembang, tidak hanya sebagai pakaian saja tetapi juga aksesoris. Begitu juga teknik pembuatannya, tidak lagi digambar manual, tetapi juga memanfaatkan teknik cap.

 

SARUNG BATIK ADALAH IDENTITAS BANGSA

Menggabungkan kedua unsur kebudayaan menjadi satu artefak kebudayaan baru merupakan sisi menarik dari busana ini. Pemaknaan baru dan fungsi – fungsi baru yang lebih mencerminkan kenusantaraan menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi muda.

 

Memadukan kedua unsur tersebut bukanlah perkara mudah, pertama dari sisi fisiknya sendiri, sarung memiliki keunikan dibandingkan sekedar kain yang dijahit melingkar. Pada salah satu sisinya memiliki motif lebih rapat sebagai penanda bagian belakangnya.

 

Sedangkan kain batiknya sendiri cenderung memiliki satu pola berulang, menggabungkan dua pola serupa tetapi tetap memiliki nilai dan visual yang harmonis bukanlah perkara mudah. Namun berkat riset, para ahli antropologi dan seniman batik, harmonisasi kini telah dicapai.

 

Bahkan mulai berkembang berbagai jenis motif, warna, serta model – modelnya. Bentuk kreasi seperti pada sarungbatik.id yang tidak hanya memadukan unsur kebudayaan saja tetapi juga memadukan tren kekinian menarik perhatian generasi milenial untuk mencobanya.

 

Penggunaan sarung batik kini mulai berkembang dan menjadi seperti fungsi sebelumnya, yaitu sebagai identitas, kebanggaan, dan cerminan karakter bangsa. Tidak juga terbatas untuk acara tertentu, seperti ibadah atau acara formal, tetapi dapat dipakai ketika bersantai atau hangout.

 

Para pecinta fashion juga mulai berbondong – bondong mengampanyekan untuk membiasakan mengenakannya, bahkan Presiden Jokowi juga pernah menggunakannya ketika berkunjung ke Pekalongan, salah satu daerah pengrajin batik terbesar di Indonesia.

 

KARAKTERISTIK SARUNG BATIK MODERN DAN KEKINIAN

Sebagai bentuk perkembangan dari tradisi, budaya, dan masuknya teknologi membuatnya memiliki karakteristik unik dan menarik. Seperti yang dikreasikan oleh sarungbatik.id, ada beberapa karakteristik unik khas yang menunjukkan bahwa sarungnya sangat fashionable bagi anak muda.

 

1. Memiliki Warna dan Corak Lebih Cerah

Warna – warna pada batik tradisional cenderung gelap dan kurang banyak motifnya. Berbeda dengan sarungbatik modern, beragam warna mulai diterapkan bahkan semakin banyak berkembang warna – warna cerah seperti merah, pink, dan sebagainya.

 

Bergantung pada teknik pewarnaannya, terkadang bisa menghasilkan dua warna saja atau bisa lebih dari itu. Untuk teknik pewarnaannya sendiri masih tetap mengadopsi teknik pewarnaan tradisional, demi menjaga unsur batiknya.

 

2. Tidak Menyimbolkan Maksud Tertentu

Motif pada sarungbatik modern kekinian cenderung bebas, bahkan setiap minggunya sarungbatik.id bisa memunculkan motif – motif baru. Kreativitas dari desainer serta tingginya permintaan dari masyarakat menjadi pendorong pengembangan motif baru tersebut.

 

Meskipun demikian, penciptaan motif sarungbatik cenderung tidak memiliki simbolis khusus seperti batik tradisional. Pengembangan motifnya lebih fokus pada menunjukkan daya kreasi, kecintaan, dan dedikasi tinggi untuk melestarikan kebudayaan Indonesia.

 

3. Menambahkan Aksen Kedaerahan

Aksen – aksen kedaerahan cenderung sulit ditemukan, meskipun beberapa corak memang dikenali oleh para pengguna batik. Contohnya orang – orang mungkin sudah mengenali bahwa motif mega mendung berasal dari Cirebon.

 

Pemahaman tersebut diketahui karena banyaknya buah tangan bermotif batik mega mendung ketika sedang berkunjung ke Cirebon. Tetapi ciri khas kedaerahan seperti adanya keraton kanoman, keraton kacirebonan, dan sebaginya cenderung tidak nampak.

 

Sarung batik modern cenderung menunjukkan berbagai jenis aksen – aksen kedaerahan, bisa berupa bangunan, tumbuh – tumbuhan, atau hewan. Contohnya perkembangan corak Cendrawasih di daerah papua dan topeng di daerah Bali.

 

4. Mengikuti Segmentasi dan Permintaan Pasar

Kelemahan dari produk tradisional adalah motifnya cenderung tetap, variasinya sedikit, dan pembeli tidak bisa ikut campur dalam penentuan visual produknya. Kelemahan ini menjadi titik unggul dari sarungbatiknya generasi milenial.

 

Banyak pengrajin di sarungbatik.id mulai mengambangkan beragam jenis produk custom, yaitu memberikan kesempatan bagi konsumen untuk terlibat dalam penentuan pilihan warna dan kombinasi motifnya. Dengan demikian produk sarungnya lebih sesuai dengan personal pelanggannya.

 

BANGGA MENGENAKAN SARUNG BATIK UNTUK AKTIVITAS SEHARI – HARI

Pengembangan kombinasi kedua busana tersebut memberikan ekosistem dan paradigma positif di kalangan masyarakat. Sekarang ketika seseorang sedang bepergian menggunakan sarung tidak lagi terlihat jadul, justru terlihat menawan.

 

Pembatasan terhadap status hanya santri yang mengenakan sarung ke mana – mana juga mulai minim, banyak anak – anak muda mulai mengombinasikan sarungnya dengan kaos pendek. Menunjukkan bahwa busana ini bukan lagi identik dengan kegiatan peribadatan.

 

Lebih pada kreasi dan ekspresi terhadap kecintaan produk – produk lokal dan kebudayaan asli Indonesia. Cocok juga digunakan pada acara – acara formal, non-formal, bahkan kegiatan santai. Untuk lebih memperkuat nuansanya, bisa mengatur jenis corak dan warnanya.

 

Pada kegiatan formal, biasanya warna sarungbatik cenderung gelap dengan motif yang kaku. Itu menunjukkan keseriusan dan dedikasi mengikuti kegiatan formal tersebut. Sedangkan ketika bersantai, warna – warna cerah cenderung mendominasi, bahkan motifnya bisa sangat bebas.

 

Selain itu mengenakan busana ini memberikan efek baik bagi pengembangan dan edukasi budaya lokal. Generasi muda jadi lebih mengenal dan mencintai berbagai produk budaya nusantara.

 

Ketertarikan terhadap tren budaya ini semakin meningkat, tetapi juga harus dibarengi dengan kualitas sarungnya. Akan sangat kurang elegan apabila mengenakan sarung tetapi kualitas kainnya tidak bagus, warnanya cepat pudar, dan kurang rapi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SEJARAH SARUNG INDONESIA, SIMBOL BUDAYA YANG BERUSAHA MENGIKUTI ZAMAN

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menetapkan  Hari Sarung Nasional  pada 3 Maret 2019 di acara Sarung Fest di kawan Gelora Bung Karno, Jakarta. ...