Senin, 10 April 2023

SEJARAH SARUNG INDONESIA, SIMBOL BUDAYA YANG BERUSAHA MENGIKUTI ZAMAN

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menetapkan 
Hari Sarung Nasional pada 3 Maret 2019 di acara Sarung Fest di kawan Gelora Bung Karno, Jakarta. Hari Sarung Nasional memiliki makna sebagai kekayaan budaya yang tidak dimiliki bangsa dan negara lain. 

Bagi masyarakat Indonesia, sarung atau kain sarung bukan hanya digunakan sebagai pelengkap untuk beribadah, tapi juga dipakai untuk pelengkap berbusana, selimut ketika tidur, bahkan untuk bermain dan masih banyak lagi.

Sarung tidak mengacu pada satu identitas agama tertentu saja, tetapi dimiliki oleh semua kalangan, sifatnya plural, dan bisa digunakan oleh siapa saja, baik pria maupun wanita. Dilansir dari laman Kemendikbud, sarung muncul di Indonesia sejak abad 14 yang dibawa oleh pedagang Arab dan India. Berdasarkan catatan sejarah, sarung berasal dari Yaman yang terkenal dengan sebutan futah.

 

"Kain sarung berawal dari Yaman dan dulu produk mereka jadi yang paling unggul di dunia. Setelah itu berkembang dan dikenal di banyak negara, termasuk di Indonesia yang mengembangkan sarung dengan unsur budaya," terang budayawan Ngatawi Al-Zastrow pada Liputan6.com, Jumat, 25 Maret 2022.

 

Sarung kini, sarung sudah menjadi simbol budaya bangsa yang patut dibanggakan. Anda bisa mendapatkan sarung dengan mudah di pasaran. Namun, untuk menentukan sarung yang tepat dan terbaik, tentu Anda perlu mempertimbangkan beberapa hal penting, seperti kualitas bahan, motif, kerapatan, jahitan, merek serta harganya.

 

Kain sarung sebeanrnya tidak hanya populer di Indonesia, tetapi kain ini banyak digunakan di sejumlah negara, terutama di Asia Tenggara. Sarung juga merupakan bagian kehidupan di Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Mesir, Singapura, dan Myanmar, meski dengan sebutan yang berbeda. Di Mesir misalnya, sarung bukan digunakan untuk salat, tapi untuk baju tidur. Masuknya sarung ke Indonesia merupakan hasil dari bisnis dan perdagangan.

 

Seiring berjalannya waktu, sarung kemudian digunakan sebagai identitas dari perjuangan melawan penjajahan. Penggunaan sarung ini sendiri sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya barat yang dibawa oleh para penjajah waktu itu.

 

Sarung pun berkembang di seluruh pelosok Indonesia dengan beragam motif dan warna di masing-masing daerah.  Dalam zaman penjajahan Belanda, sarung identik dengan perjuangan melawan budaya barat yang dibawa kaum penjajah.

 

"Waktu itu, masyarakat santri merupakan golongan masyarakat yang paling konsisten menggunakan sarung. Sementara kaum nasionalis abangan justru hampir meninggalkan sarung dan menggantinya dengan celana formal yang dianggap lebih praktis dan moderen," jelas Al Zastrow yang pernah menjadi juru bicara Abdurrahman Wahid alias Gus Dur saat menjabat Presiden RI ke-4.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SEJARAH SARUNG INDONESIA, SIMBOL BUDAYA YANG BERUSAHA MENGIKUTI ZAMAN

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menetapkan  Hari Sarung Nasional  pada 3 Maret 2019 di acara Sarung Fest di kawan Gelora Bung Karno, Jakarta. ...