Bagi masyarakat Indonesia, sarung atau kain sarung bukan hanya digunakan sebagai pelengkap untuk beribadah, tapi juga dipakai untuk pelengkap berbusana, selimut ketika tidur, bahkan untuk bermain dan masih banyak lagi.
Sarung tidak mengacu pada satu identitas
agama tertentu saja, tetapi dimiliki oleh semua kalangan, sifatnya plural, dan
bisa digunakan oleh siapa saja, baik pria maupun wanita. Dilansir dari laman
Kemendikbud, sarung muncul di Indonesia sejak abad 14 yang dibawa oleh pedagang
Arab dan India. Berdasarkan catatan sejarah, sarung berasal dari Yaman yang
terkenal dengan sebutan futah.
"Kain sarung berawal dari Yaman dan
dulu produk mereka jadi yang paling unggul di dunia. Setelah itu berkembang dan
dikenal di banyak negara, termasuk di Indonesia yang mengembangkan sarung
dengan unsur budaya," terang budayawan Ngatawi Al-Zastrow pada
Liputan6.com, Jumat, 25 Maret 2022.
Sarung kini, sarung sudah menjadi simbol
budaya bangsa yang patut dibanggakan. Anda bisa mendapatkan sarung dengan mudah
di pasaran. Namun, untuk menentukan sarung yang tepat dan terbaik, tentu Anda
perlu mempertimbangkan beberapa hal penting, seperti kualitas bahan, motif,
kerapatan, jahitan, merek serta harganya.
Kain sarung sebeanrnya tidak hanya populer
di Indonesia, tetapi kain ini banyak digunakan di sejumlah negara, terutama di
Asia Tenggara. Sarung juga merupakan bagian kehidupan di Malaysia, Brunei
Darussalam, Thailand, Mesir, Singapura, dan Myanmar, meski dengan sebutan yang
berbeda. Di Mesir misalnya, sarung bukan digunakan untuk salat, tapi untuk baju
tidur. Masuknya sarung ke Indonesia merupakan hasil dari bisnis dan
perdagangan.
Seiring berjalannya waktu, sarung kemudian
digunakan sebagai identitas dari perjuangan melawan penjajahan. Penggunaan
sarung ini sendiri sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya barat yang dibawa
oleh para penjajah waktu itu.
Sarung pun berkembang di seluruh pelosok
Indonesia dengan beragam motif dan warna di masing-masing daerah. Dalam zaman penjajahan Belanda, sarung
identik dengan perjuangan melawan budaya barat yang dibawa kaum penjajah.
"Waktu itu, masyarakat santri
merupakan golongan masyarakat yang paling konsisten menggunakan sarung.
Sementara kaum nasionalis abangan justru hampir meninggalkan sarung dan
menggantinya dengan celana formal yang dianggap lebih praktis dan
moderen," jelas Al Zastrow yang pernah menjadi juru bicara Abdurrahman
Wahid alias Gus Dur saat menjabat Presiden RI ke-4.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar